Skip to main content

Olahraga Murah Meriah

Sudah lama saya menekuni olah raga sepeda yang unik, namanya sepeda Trials. Tekniknya sulit sekali hanya untuk menguasai satu teknik dasar saja. Kalau saya hitung tahun, mungkin sudah lebih dari 7 tahun saya menekuni olah raga ini untuk hanya sekedar mengeluarkan keringat. Banyak yang heran dengan pilihan olah raga ini, yang cukup beresiko bagi seusia saya. Sampai saat ini hanya untuk sekedar berolah raga, sepeda trials masih setia menemani, walaupun teknik yang dikuasai sederhana saja dan memang hanya itu yang saya kuasai seperti teknik melumpat, turun dari ketinggian, dan berdiri di sepeda.
Semakin hari, saya rasakan badan kok ya butuh tantangan yang lebih berat akan tetapi tentunya yang tidak beresiko. Trials rawan sekali terjatuh walaupun gerakan itu sederhana saja. Akhirnya saya kembali merenungkan olah raga apa yang tidak memerlukan alat-alat, akan tetapi memanfaatkan gerakan badan sendiri. Tanpa sengaja ketemu web di youtube tentang olah raga Calisthenics, yang cukup aneh di telinga. Olah raga ini hanya memanfaatkan berat badan untuk melakukan workout dasarnya. Semacam push up, squat jump, sit up, dan ditambah gerakan menggunakan alat yang namanya bar, atau palang tempat berayun atau menggantung badan. Sederhana akan tetapi jangan tanya, tingkat kesulitannya cukup tinggi. Sudah hampir 2 bulan mencoba olah raga ini, dengan dibantu dengan diet karbohidrat supata badan tidak berlemak. Dengan tinggi 177, dan berat badan terakhir hampir 76 kg sudah cukup gemuk badan ini.
Setelah 2 bulan rutin berolah raga dasar push up, sit up, squat jump, dan sedikit belajar menggantung di bar (istilahnya pull up) rasanya sudah tidak karu-karuan badan. Sakit di beberapa bagian, bahkan terkadang susah sekali hanya untuk mencopot kaus olah raga. Saya coba bertahan dengan berbagai macam sakit, di dada, bisep, trisep, otot perut, ternyata berat badan turun 2Kg serta diet mengurangi makan nasi dan memperbanyak sayuran. Saat diet makan nasi, setiap hari saya di bully istri dan anak saya, karena biasanya saya makan nasi cukup banyak dan bulan-bulan terakhir ini sangat sedikit konsumsi nasinya. Istri sempat khawatir jika saya sakit, karena makan nasi cukup sedikit setiap harinya, sementara olah raga hampir setiap pagi. Saya melakukan pull up di pintu-pintu kusen rumah, sehingga tangan menjadi kapalan, cukup sakit pada awal-awalnya.
Setelah berkeliling kota, ternyata ada beberapa palang bar yang dapat digunakan untuk latihan. Dan saya memilih daerah yang dekat rumah yang ada palang barnya, supaya tidak terlalu jauh untuk mencoba latihan gantung-menggantung di bar. Otot trisep, bisep, dan perut sudah mulai terbentuk, walaupun berat badan masih bertahan di 74 kg. Luar biasa berat olah raga ini, jika dibanding dengan olah raga di Gym yang hanya membutuhkan barbel, dumbel, atau variasinya yang rata-rata mudah dioperasikan. Calisthenics cukup berat dan terkadang membuat frustrasi, karena tingkat kesulitan yang ditimbulkan dari teknik-tekniknya. Mencoba masih bertahan dengan rasa sakit, frustrasi, dan bully dari orang-orang terkasih yang paling dekat dengan saya.

Comments

Popular posts from this blog

Apasih arti QUO VADIS?

Pertanyaan ini muncul saat saya mau membuat sebuah presentasi, dan ketika akan membuat judul presentasi tersebut munculah kata Quo Vadis.. wha.. kayaknya keren nih.. Googling dengan kata Quo Vadis.. wah .. banyak juga.. kayaknya saya memberi judul presentasi saya sangat klise dan tidak otentik... Tapi biarlah karena keburu waktu harus presentasi. Masih penasaran dengan kata ini akhirnya menuju ke Google untuk mencari artinya.Ini kutipan dari bahasa Latin saat ketemu di Google
13:36 dicit ei Simon Petrus Domine quo vadis respondit Iesus quo ego vado non potes me modo sequi sequeris autem postea.
Cari di Wikipedia ... Wah agak bingung dengan artinya, akhirnya dapat terjemahan yang menarik yaitu demikian "Kata Quo Vadis berasal dari Injil apokrif “Kisah Petrus”, yang menceritakan bahwa ketika Petrus hendak mengungsi dari kota Roma, di Via Appia (Appian Way).... Yesus menampakkan diri kepada Petrus, dan Petrus bertanya: “Quo Vadis Domine ?" "Whither goest thou?" "M…

Tragedi Simoncelli

23 Oktober 2011 merupakan hari naas bagi Marco Simoncelli, karena karier, kontroversi dan bahkan hidupnya berakhir di lintasan Sepang, yang pernah mengantar kebahagiaan di puncak kariernya. Saya bukan penggemar berat MotoGP, hanya suka saja melihat tantangan pebalapnya yang mencoba menjadi paling depan di antara pebalap yang lain. Kebetulan saja pas seri di Sepang ini, saya melihat bersama anak saya walaupun sebenarnya kurang menarik dari sisi persaingan karena Juara seri ini sudah di tangan Stoner.
Setelah putaran ke-2 kecelakaan pun terjadi, dan sayapun mengambil beberapa rekaman kejadian kecelakaan yang merenggut Simoncelli. Tabrakan terjadi kurang dari 1 detik karena begitu cepatnya sehingga helm Simoncellipun terlepas. Saya nggak habis pikir mengapa helm yang dirancang begitu kuat dapat terlepas dari kepala Simoncelli. Helm itu tentu sangat presisi melekat pada pipi, bentuk kepala, dan diikat dengan tali helm yang cukup kuat. Saat saya memakai helm yang bagus biasanya sangat susa…

Kritik Film Laskar Pelangi

Mengapa Laskar Pelangi menggelitik saya, untuk sekedar berkomentar tentang novel paling laris ini. Sungguh luar biasa menurut saya, mengapa novel ini dapat laris banget dengan kondisi melek baca di Indonesia yang sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Saat baca novel ini, saya menjadi teringat sastrawan besar idola saya Pram...ada semburat alur yang sama, gaya penuturan yang mirip..dengan pak Pram... sehingga cukup membuat saya terhibur dengan kerinduan tulisan Pram.
Film baru diputar tanggal 25 September 2008, sehingga saya hanya melihat web site resmi film ini untuk melihat tokoh-tokoh bayangan saya, dengan tokoh bayangan sutradara di film. Tokoh bu Mus mengingatkan Nyai Ontosoroh.... sehingga tokoh ini begitu saya puja. Saat tokoh bu Mus diperankan oleh Cut Mini... bayangan bu Mus di benak saya menjadi terganggu. Di benak saya terlihat bahwa bu Mus tidak secantik Cut Mini.. sehingga balutan industri film memang cukup kental di sini tidak semurni nyawa tulisan Andrea Hi…