Monday, August 12, 2013

Maafkan aku buang semua bajumu...

Hari raya pertama 8 Agustus 2013 yang lalu adalah tahun kedua lebaran tanpa anakku Raditya. Biasanya kalau oomnya datang, pasti ada keributan antara kedua anakku, karena berebut barang-barang bawaan oomnya terutama HP, Gadget, ataupun hanya ingin dekat saat jalan-jalan dengan mobilnya. Suasana itu kini sudah tidak ada lagi, dulu aku sering jengkel dengan ulah mereka, karena selalu ribut berantem dari pagi sampai menjelang tidur. Saat-saat itu, aku sering tidak terkontrol dengan memarahi mereka berdua terkadang aku memukul mereka karena kesabaran sudah pada puncaknya.
Kini .. rasanya sepi sekali... saat bangun tidur.. dan sadar bahwa Raditya sudah tidak di sisi kita lagi, selalu saja setiap pagi rasa hampa di hati sungguh sangat terasa membebani. Apalagi saat bangun pagi.. istriku menangis karena teringat Raditya.. terbawa dalam mimpinya. Aku sungguh tidak dapat berkata-kata untuk sekedar menenangkannya. Sungguh berat rasanya ditinggalkannya.. Hiburan yang dapat saya nikmati adalah menikmati wajah anakku yang paling kecil Naditya..adiknya Raditya, yang lahir beberapa waktu setelah Raditya wafat. Wajah tanpa dosa yang sungguh membuat aku dan istriku bergairah untuk melanjutkan hidup yang berat ini.
Terkadang rindu.. kangen setengah mati yang tidak tertahankan untuk memeluk Raditya... akan tetapi kerinduan yang sia-sia.. sungguh tidak dapat aku tuliskan rasa kerinduan luar biasa ini terhadap anakku. Rindu yang tidak akan tersampaikan...
Aku terkadang berangan... suatu saat nanti Raditya akan kembali... muncul di depan pintu rumah, dan akan aku peluk dengan sangat erat... Aku bayangkan Radit hanya pergi sebentar, dan kangenku akan tersembuhkan dengan kedatangan dia di depan pintu rumah. Dan terheran-heran karena rumahnya kini sudah berbeda dengan rumah saat Radit dulu ada.....
Hari pertama Lebaran... sungguh berat bangun pagi.. hanya untuk melaksanakan ibadah ... akan tetapi tanpa Radit di sisiku. Semua pakaian Radit, yang telah aku bungkus dalam kotak telah disiapkan istriku untuk dibuang ke laut, menghilangkan kenangan yang sungguh menyiksa kami. Lebih dari 5 kotak pakaian Radit.. baik pakaian dalam, seragam, hingga jaket-jaket kesayangannya.
Siang kami menuju ke pantai selatan, dan kami pilih area pantai yang sepi untuk membuang atau me "larung" dalam bahasa Jawa semua pakaian Raditya. Sangat berat rasanya, saat membongkar semua pakaiannya... energi yang sangat besar memapar dan memasuki relung kerinduanku yang amat dalam. Memori semua bajunya begitu kuat membuat mataku yang sejak tadi aku tahan untuk tidak sembab oleh beban air mata menjadi menyerah tak kuasa aku tahan, saat aku membuka sebuah kardus yang berisi jaket biru kesayangan anakku Radit. Tak kuasa lagi untuk menahan beban hati, yang akhirnya tertumpah air mataku ke jaket biru Radit... untuk sekedar meringankan kerinduanku.
Setiap aku buka satu persatu, kardus baju anakku... dari celana dalam, baju kaos, kemeja, seragam merah putih, dan terakhir sepatu Radit... semua tanpa ampun menghajar kenangan di hatiku yang sudah luluh lantak ..... mengharu biru.. Beberapa pakaian Radit dengan mudah disambut ombak pantai... beberapa kembali dan aku lemparkan sambil aku teriakkan nama anakku berkali-kali....

Selamat Jalan.... anakku.... aku sebenarnya tidak rela kamu tinggalkan.... tapi apa daya bapakmu ini.... kami ingin membuang kenangan bersama bajumu... bukan berarti kami melupakanmu nak.. hanya beban ini semoga sedikit berkurang.. dengan me'larung' ... membuang semua pakaianmu ke laut lepas... dan di sana mungkin jiwamu lebih tenteram...


Jogja Agustus 2013

No comments: