Skip to main content

Sendirian di Makam Anakku

Sudah lama, keinganku untuk pergi sendiri di makam anakku. Awal tahun ini, hujan cukup deras sehingga makam anakku sedikit turun terkikis air hujan. Dan saatnya aku memeriksa kembali apakah sudah dibetulkan oleh juru kunci makam.
Sesudah membeli kembang, aku bergegas ke makam.. masih terasa baru kemarin saja kepergian anakku, yang meninggalkan sesuatu yang tidak dapat aku katakan. Aku duduk tepekur cukup lama, memandangi kayu bertuliskan nama anakku di sana, tenggelam terkubur tambahan tanah yang ditimbunkan langsung oleh juru kunci.
Saatnya aku menumpahkan air mataku yang aku tahan cukup lama, di depan kubur anakku untuk sekedar melepaskan beban yang selama ini aku tahan. Mungkin tidak ada gunanya, akan tetapi cukuplah untuk mengurai beban yang selama ini menumpuk di ujung mataku. Yang biasanya hanya sekedar sembab aku tahan, Saat aku sendiri merupakan kesempatan untuk menumpahkan beban kesedihan yang begitu menggunung.
Aku harap anakku tidak tahu kesedihanku, yang selama dia sakit, aku tahan, aku bendung, untuk tidak aku perlihatkan titik airmata sedikitpun di depan anakku.
"Aku sayang kamu Radit..."
"Maafkankan bapakmu Radit..."
Hanya kata itu yang aku ucapkan berkali-kali membiarkan seluruh airmataku tumpah. Mungkin setitik menetes di tanah basah kubur anakku. Mungkin dapat menjadi sinyal kerinduanku kepadanya.
Dapat dibayangkan, anakku sudah tidak akan aku jumpai lagi.... anakku yang benar-benar aku sayangi sudah tidak dapat aku peluk lagi...
Ya sudahlah Radit... aku sangat sayang kamu... titik airmata yang menetes tadi semoga dapat engkau rasakan... temuilah hanya dalam mimpi bapakmu......


Comments

Popular posts from this blog

Apasih arti QUO VADIS?

Pertanyaan ini muncul saat saya mau membuat sebuah presentasi, dan ketika akan membuat judul presentasi tersebut munculah kata Quo Vadis.. wha.. kayaknya keren nih.. Googling dengan kata Quo Vadis.. wah .. banyak juga.. kayaknya saya memberi judul presentasi saya sangat klise dan tidak otentik... Tapi biarlah karena keburu waktu harus presentasi. Masih penasaran dengan kata ini akhirnya menuju ke Google untuk mencari artinya.Ini kutipan dari bahasa Latin saat ketemu di Google
13:36 dicit ei Simon Petrus Domine quo vadis respondit Iesus quo ego vado non potes me modo sequi sequeris autem postea.
Cari di Wikipedia ... Wah agak bingung dengan artinya, akhirnya dapat terjemahan yang menarik yaitu demikian "Kata Quo Vadis berasal dari Injil apokrif “Kisah Petrus”, yang menceritakan bahwa ketika Petrus hendak mengungsi dari kota Roma, di Via Appia (Appian Way).... Yesus menampakkan diri kepada Petrus, dan Petrus bertanya: “Quo Vadis Domine ?" "Whither goest thou?" "M…

Tragedi Simoncelli

23 Oktober 2011 merupakan hari naas bagi Marco Simoncelli, karena karier, kontroversi dan bahkan hidupnya berakhir di lintasan Sepang, yang pernah mengantar kebahagiaan di puncak kariernya. Saya bukan penggemar berat MotoGP, hanya suka saja melihat tantangan pebalapnya yang mencoba menjadi paling depan di antara pebalap yang lain. Kebetulan saja pas seri di Sepang ini, saya melihat bersama anak saya walaupun sebenarnya kurang menarik dari sisi persaingan karena Juara seri ini sudah di tangan Stoner.
Setelah putaran ke-2 kecelakaan pun terjadi, dan sayapun mengambil beberapa rekaman kejadian kecelakaan yang merenggut Simoncelli. Tabrakan terjadi kurang dari 1 detik karena begitu cepatnya sehingga helm Simoncellipun terlepas. Saya nggak habis pikir mengapa helm yang dirancang begitu kuat dapat terlepas dari kepala Simoncelli. Helm itu tentu sangat presisi melekat pada pipi, bentuk kepala, dan diikat dengan tali helm yang cukup kuat. Saat saya memakai helm yang bagus biasanya sangat susa…

Kritik Film Laskar Pelangi

Mengapa Laskar Pelangi menggelitik saya, untuk sekedar berkomentar tentang novel paling laris ini. Sungguh luar biasa menurut saya, mengapa novel ini dapat laris banget dengan kondisi melek baca di Indonesia yang sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Saat baca novel ini, saya menjadi teringat sastrawan besar idola saya Pram...ada semburat alur yang sama, gaya penuturan yang mirip..dengan pak Pram... sehingga cukup membuat saya terhibur dengan kerinduan tulisan Pram.
Film baru diputar tanggal 25 September 2008, sehingga saya hanya melihat web site resmi film ini untuk melihat tokoh-tokoh bayangan saya, dengan tokoh bayangan sutradara di film. Tokoh bu Mus mengingatkan Nyai Ontosoroh.... sehingga tokoh ini begitu saya puja. Saat tokoh bu Mus diperankan oleh Cut Mini... bayangan bu Mus di benak saya menjadi terganggu. Di benak saya terlihat bahwa bu Mus tidak secantik Cut Mini.. sehingga balutan industri film memang cukup kental di sini tidak semurni nyawa tulisan Andrea Hi…