Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Naluri Membunuh....

Luar biasa, itu kesan setelah melihat film "The Act of Killing" atau "Jagal" oleh Joshua Oppenheimer. Sejarah kelam 1965, memang mulai dikuak pelan tapi pasti. Selama ini tanda tanya selalu meliputi setiap pikiranku tentang peristiwa ini. Dari nenek, orang tuaku sendiri sering terdengar kisah peristiwa pembantaian orang-orang PKI ini juga. Beberapa buku pernah aku baca juga tentang 30S PKI ini, seperti dari John Roosa berjudul "dalih pembunuhan massal", terus tulisan dari Hermawan Sulistya berjudul "Palu Arit di Ladang Tebu".. masih belum menjawab siapasih sebenarnya dalang kerusuhan mematikan ini.
Banyak versi dan terlihat membingungkan kesannya dari beberapa buku yang aku baca, kemudian informasi dari Youtube juga pernah aku sambangi hanya untuk mengetahui bagaimanasih pandangan orang-orang di luar Indonesia dalam memahami kejadian berdarah ini. Informasi dari Al Jazeera berjudul 101 East: Indonesia's Killing Fields, "Shadow Play&quo…

Doa Sekuler kaum Zionis

Beri aku pakaian, wahai bundaku yang sebenarnya,
dalam jubah agung beraneka warna
Dan di saat pagi ketika aku harus bekerja,
bawa aku ke tempat kerja.
Cahaya pagi membungkusku seperti selendang orang yang bersembahyang.
Rumah-rumah tegak bagaikan sepotong kain yang menutupi bagian atas altar.

Dan jalanan, dibentangkan oleh tangan-tangan pekerja keras,
menjulur bagaikan jalinan tefilin*.
Maka, kota yang indah ini menawarkan sembahyang paginya kepada para penciptanya;

Israel 1927

Avraham Shlonsky



*)Tefillin adalah kotak kulit berbentuk kubus yang dicat hitam dengan ikat kulit hitam di satu sisinya. 
Di dalamnya berisi gulungan kulit atau perkamen tulisan ayat Alkitab.
Orang Yahudi mengikatkannya di kepala dan lengan atas selama ibadah pagi di hari kerja.

Maafkan aku buang semua bajumu...

Hari raya pertama 8 Agustus 2013 yang lalu adalah tahun kedua lebaran tanpa anakku Raditya. Biasanya kalau oomnya datang, pasti ada keributan antara kedua anakku, karena berebut barang-barang bawaan oomnya terutama HP, Gadget, ataupun hanya ingin dekat saat jalan-jalan dengan mobilnya. Suasana itu kini sudah tidak ada lagi, dulu aku sering jengkel dengan ulah mereka, karena selalu ribut berantem dari pagi sampai menjelang tidur. Saat-saat itu, aku sering tidak terkontrol dengan memarahi mereka berdua terkadang aku memukul mereka karena kesabaran sudah pada puncaknya.
Kini .. rasanya sepi sekali... saat bangun tidur.. dan sadar bahwa Raditya sudah tidak di sisi kita lagi, selalu saja setiap pagi rasa hampa di hati sungguh sangat terasa membebani. Apalagi saat bangun pagi.. istriku menangis karena teringat Raditya.. terbawa dalam mimpinya. Aku sungguh tidak dapat berkata-kata untuk sekedar menenangkannya. Sungguh berat rasanya ditinggalkannya.. Hiburan yang dapat saya nikmati adalah me…

Anakku

Sepeninggal Radit, anakku yang terkena leukemia lebih dari setahun yang lalu, kini telah lahir anakku yang telah lama kami tunggu kehadirannya. Saat ini anakku sudah 4 bulan umurnya, sudah menjadi hiburan yang cukup membuat kita sekeluarga seakan bangkit kembali untuk menikmati kata bahagia, yang selama ini sangat sulit kita dapati. Naditya.. namanya, kami berharap anakku merupakan reinkarnasi dari Raditya, yang akan menghibur menjadi matahari bagi keluarga kami.Bayangan Radit, masih selalu menghampiri setiap hari, terkadang masih membuat rasa perih, marah, jengkel, dan apapun namanya membuat sesak di dada. Mengapa anakku tanpa dosa, yang terpilih untuk menderita sedemikian hebatnya. Tanpa sepengetahuan istriku, terkadang aku masih sering berputar-putar di sekitar rumah lama tempat Radit lahir dan menikmati hari-hari indahnya dahulu, yang sekarang sudah aku jual dan kini kita telah berpindah ke lain tempat untuk sekedar menghilangkan memory indah selama di rumah lama.
Trauma.. adalah…

Sendirian di Makam Anakku

Sudah lama, keinganku untuk pergi sendiri di makam anakku. Awal tahun ini, hujan cukup deras sehingga makam anakku sedikit turun terkikis air hujan. Dan saatnya aku memeriksa kembali apakah sudah dibetulkan oleh juru kunci makam.
Sesudah membeli kembang, aku bergegas ke makam.. masih terasa baru kemarin saja kepergian anakku, yang meninggalkan sesuatu yang tidak dapat aku katakan. Aku duduk tepekur cukup lama, memandangi kayu bertuliskan nama anakku di sana, tenggelam terkubur tambahan tanah yang ditimbunkan langsung oleh juru kunci.
Saatnya aku menumpahkan air mataku yang aku tahan cukup lama, di depan kubur anakku untuk sekedar melepaskan beban yang selama ini aku tahan. Mungkin tidak ada gunanya, akan tetapi cukuplah untuk mengurai beban yang selama ini menumpuk di ujung mataku. Yang biasanya hanya sekedar sembab aku tahan, Saat aku sendiri merupakan kesempatan untuk menumpahkan beban kesedihan yang begitu menggunung.
Aku harap anakku tidak tahu kesedihanku, yang selama dia sakit,…