Friday, October 25, 2013

Naluri Membunuh....

Luar biasa, itu kesan setelah melihat film "The Act of Killing" atau "Jagal" oleh Joshua Oppenheimer. Sejarah kelam 1965, memang mulai dikuak pelan tapi pasti. Selama ini tanda tanya selalu meliputi setiap pikiranku tentang peristiwa ini. Dari nenek, orang tuaku sendiri sering terdengar kisah peristiwa pembantaian orang-orang PKI ini juga. Beberapa buku pernah aku baca juga tentang 30S PKI ini, seperti dari John Roosa berjudul "dalih pembunuhan massal", terus tulisan dari Hermawan Sulistya berjudul "Palu Arit di Ladang Tebu".. masih belum menjawab siapasih sebenarnya dalang kerusuhan mematikan ini.
Banyak versi dan terlihat membingungkan kesannya dari beberapa buku yang aku baca, kemudian informasi dari Youtube juga pernah aku sambangi hanya untuk mengetahui bagaimanasih pandangan orang-orang di luar Indonesia dalam memahami kejadian berdarah ini. Informasi dari Al Jazeera berjudul 101 East: Indonesia's Killing Fields, "Shadow Play" yang diproduseri oleh Chris Hilton dan BBC, dan yang terakhir adalah film dokumenter Jagal tetap saja masih menyisakan tanya. Minimnya data, informasi, serta kejadian politis yang lebih dari 30 tahun terpendam, menjadikannya sangat sulit dicari kesimpulannya.
Ada beberapa penyebab yang menimbulkan kejadian chaos ini, yang jelas adalah politik dunia waktu itu yang terbagi menjadi 2 blok, dan dengan gagah beraninya Soekarno membuat blok sendiri yang disebut non blok. Letak strategis Asia Tenggara dalam kancah politik globallah, yang memicu ketegangan blog barat dan timur di kawasan ini.Tragedi berdarah ini adalah puncah perang dingin, yang menginginkan keruntuhan kekuasaan Soekarno, yang terbukti ternyata lebih memilih ke blok kiri. Karena hal inilah blok barat dengan menggunakan segala cara mencoba untuk menjatuhkan Soekarno, dan terjadilah sebuah gerakan pada tanggal 30 September 1965, untuk mencoba menggulingkannya. Tentu sangat terlihat di pola ini adalah pihak Barat pasti berkepentingan di sini. Propaganda, merupakan alat yang ampuh untuk menghancurkan kekuatan Soekarno. Cara ini efektif, tidak memerlukan energi banyak, seperti katalisator yang membantu proses, akan tetapi tidak ikut berproses.
Terbukti bahwa OTAK ternyata bisa mengalahkan OTOT sekalipun OTOT berjumlah ribuan bahkan jutaan sekaligus. Hanya dengan otak bangsa barat inilah ternyata terjadi keadaan yang sepertinya telah diprediksi oleh barat, yaitu kejatuhan Soekarno. Kejatuhan Soekarno, merupakan awal malapetaka bangsa yang tak terperi, dimana partai yang dekat dengan Soekarno, atau partai-partai politik dan angkatan bersenjata yang sedang berebut pengaruh pada waktu itu saling memanfaatkan momentum itu. Penculikan dan pembunuhan Jendral yang ditengarai akan melakukan kudeta terhadap Sokearno oleh gerakan yang diberi nama G30S, ternyata sangat tidak efektif. Sampai saat ini, belum terungkap sebenarnya siapa yang menggerakan G30S, yang terbukti memicu gerakan brutal yang lebih kejam dari perkiraan semula. Keadaan yang kacau balau itu, dimanfaatkan oleh angkatan darat yang telah lama memang cukup kuat secara politis dekat dengan Soekarno, sehingga Soekarno memercayakan pemulihannya kepadanya. Kalau melihat pendapat Pramoedya Ananta Toer, Angkatan Darat ini sebenarnyalah yang selama ini tidak tersentuh oleh Soekarno. Menurutnya Angkatan Darat adalah negara di dalam negara yang dipimpin oleh Nasution. Moementum inilah yang kemudian diambil oleh Angkatan Darat untuk melakukan kudeta setelah gerakan amatiran dari G30S yang gagal. Kepercayaan ini ternyata menimbulkan malapetaka, baik bagi Sokearno sendiri dan partai politik yang tentunya berseberangan dengan angkatan darat. Rumor-rumor yang dihembuskan, adalah kudeta gagal yang dilakukan oleh PKI yang pada waktu itu adalah partai anak emas Soekarno. Angkatan darat yang dikomandoi oleh Soeharto, pada waktu itu tampaknya mendapatkan dukungan yang luar biasa dari blok barat, untuk memercepat runtuhnya komunis yang sangat kuat di Indonesia. Dukungan pihak barat ini yang paling utama adalah penyebaran propaganda untuk memancing emosi anti partai komunis yang membesar dengan cepat di Indonesia. Pembunuhan jendral-jendral itulah yang menjadi bahan propaganda pemicu besar sentimen anti komunis. Propaganda itu menekankan pada pembunuhan brutal dan isue tentang ketidak percayaan Tuhan pada komunis yang cenderung menghalalkan segala cara. Cukup mudah propaganda ini membakar kebencian yang dalam terhadap partai terbesar waktu itu yaitu PKI.
Terbukti teror, perlakuan, serta pembunuhan yang sangat kejam segera terjadi bagi anggota PKI, maupun orang yang terlibat di dalamnya setelah propaganda ini berhasil menyebar. Tanpa bantuan barat, operasi besar melawan partai besar komunis saat itu, sangat mustahil dilakukan. Dengan bantuan propaganda yang telah memancing emosi masyarakat, perangai amuk massa yang biasa terjadi di negara-negara timur, terjadilah. Kejadian chaos, brutal, kemarahan massa yang beringas, tidak terlakkan lagi. Soekarno, sudah diujung kekuasaannya, terlunglai tanpa daya. Mahasiswa yang lebih terpelajar, dengan mudah dapat mengakses propaganda barat dari radio, selebaran, bahkan leaflet-leaflet dadakan yang dicetak dengan bantuan agen propaganda media barat. Mahasiswa inilah yang kemudian bergerak untuk menentang PKI dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi yang menggelinding membesar dan semakin tidak terkendali. Mahasiswa dibantu oleh tentara, kemudian menjadi eksekutor-eksekutor kejam dengan naluri membunuh yang tinggi, akhirnya tersalurkan walaupun sasaran mungkin tidak begitu valid. Masyarakat sipil pun menjadi beringas, dan tidak terkendali untuk menyalurkan kemarahannya akibat dari propaganda yang mungkin tidak dipahaminya. Tentarapun ikut memberikan kemudahan untuk melaksanakan amuk massa yang beringas dan haus darah, dikobarkan dengan propaganda anti Komunis yang semakin intensif dilakukan. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa tentang politik, tentang ekonomi komunis, tentang atheis, tentang sosialisme, materialisme, akhirnya dibunuh dalam tanya dan nanar tatapan mata ketakutan. Tubuh-tubuh mereka sudah tidak ada harganya, dan dianggap bukan mahluk hidup yang dapat dengan mudah dicabut nyawanya dengan berbagai modus pembunuhan. Penahanan brutal, penyiksaan, dilakukan untuk semua yang ditengarai berhubungan dengan komunis.
Bisa dibayangkan sebuah partai besar dengan jumlah 3 juta simpatisan, harus menanggung kesalahan partai yang mungkin tidak dipahaminya. Kesalahan ketua partai atau kekalahan persaingan antar partai, akhirnya ditimpakan semuanya kepada seluruh pengikutnya... sungguh luar biasa kebodohan yang terjadi pada waktu itu tentunya. Militer dengan kejamnya melakukan interogasi dan penangkapan secara brutal, yang terkadang berakhir dengan eksekusi mati.
Kekuatan massa dan tentara akhirnya memaksa Soekarno menyerahkan kepada Soeharto, dan lengkaplah lembar penuh darah sejarah Indonesia. Skenario barat untuk meruntuhkan Soekarno, serta membunuh komunisme berjalan dengan lancar. Dan pembunuhan massal inipun sepertinya ditutup-tutupi pula oleh pihak barat yang terkadang kuat dalam meneriakkan HAM akan tetapi bungkam dalam peristiwa Kup yang gagal ini.

Tuesday, September 03, 2013

Doa Sekuler kaum Zionis

Beri aku pakaian, wahai bundaku yang sebenarnya,
dalam jubah agung beraneka warna
Dan di saat pagi ketika aku harus bekerja,
bawa aku ke tempat kerja.
Cahaya pagi membungkusku seperti selendang orang yang bersembahyang.
Rumah-rumah tegak bagaikan sepotong kain yang menutupi bagian atas altar.

Dan jalanan, dibentangkan oleh tangan-tangan pekerja keras,
menjulur bagaikan jalinan tefilin*.
Maka, kota yang indah ini menawarkan sembahyang paginya kepada para penciptanya;

Israel 1927

Avraham Shlonsky



*)Tefillin adalah kotak kulit berbentuk kubus yang dicat hitam dengan ikat kulit hitam di satu sisinya. 
Di dalamnya berisi gulungan kulit atau perkamen tulisan ayat Alkitab.
Orang Yahudi mengikatkannya di kepala dan lengan atas selama ibadah pagi di hari kerja.

Monday, August 12, 2013

Maafkan aku buang semua bajumu...

Hari raya pertama 8 Agustus 2013 yang lalu adalah tahun kedua lebaran tanpa anakku Raditya. Biasanya kalau oomnya datang, pasti ada keributan antara kedua anakku, karena berebut barang-barang bawaan oomnya terutama HP, Gadget, ataupun hanya ingin dekat saat jalan-jalan dengan mobilnya. Suasana itu kini sudah tidak ada lagi, dulu aku sering jengkel dengan ulah mereka, karena selalu ribut berantem dari pagi sampai menjelang tidur. Saat-saat itu, aku sering tidak terkontrol dengan memarahi mereka berdua terkadang aku memukul mereka karena kesabaran sudah pada puncaknya.
Kini .. rasanya sepi sekali... saat bangun tidur.. dan sadar bahwa Raditya sudah tidak di sisi kita lagi, selalu saja setiap pagi rasa hampa di hati sungguh sangat terasa membebani. Apalagi saat bangun pagi.. istriku menangis karena teringat Raditya.. terbawa dalam mimpinya. Aku sungguh tidak dapat berkata-kata untuk sekedar menenangkannya. Sungguh berat rasanya ditinggalkannya.. Hiburan yang dapat saya nikmati adalah menikmati wajah anakku yang paling kecil Naditya..adiknya Raditya, yang lahir beberapa waktu setelah Raditya wafat. Wajah tanpa dosa yang sungguh membuat aku dan istriku bergairah untuk melanjutkan hidup yang berat ini.
Terkadang rindu.. kangen setengah mati yang tidak tertahankan untuk memeluk Raditya... akan tetapi kerinduan yang sia-sia.. sungguh tidak dapat aku tuliskan rasa kerinduan luar biasa ini terhadap anakku. Rindu yang tidak akan tersampaikan...
Aku terkadang berangan... suatu saat nanti Raditya akan kembali... muncul di depan pintu rumah, dan akan aku peluk dengan sangat erat... Aku bayangkan Radit hanya pergi sebentar, dan kangenku akan tersembuhkan dengan kedatangan dia di depan pintu rumah. Dan terheran-heran karena rumahnya kini sudah berbeda dengan rumah saat Radit dulu ada.....
Hari pertama Lebaran... sungguh berat bangun pagi.. hanya untuk melaksanakan ibadah ... akan tetapi tanpa Radit di sisiku. Semua pakaian Radit, yang telah aku bungkus dalam kotak telah disiapkan istriku untuk dibuang ke laut, menghilangkan kenangan yang sungguh menyiksa kami. Lebih dari 5 kotak pakaian Radit.. baik pakaian dalam, seragam, hingga jaket-jaket kesayangannya.
Siang kami menuju ke pantai selatan, dan kami pilih area pantai yang sepi untuk membuang atau me "larung" dalam bahasa Jawa semua pakaian Raditya. Sangat berat rasanya, saat membongkar semua pakaiannya... energi yang sangat besar memapar dan memasuki relung kerinduanku yang amat dalam. Memori semua bajunya begitu kuat membuat mataku yang sejak tadi aku tahan untuk tidak sembab oleh beban air mata menjadi menyerah tak kuasa aku tahan, saat aku membuka sebuah kardus yang berisi jaket biru kesayangan anakku Radit. Tak kuasa lagi untuk menahan beban hati, yang akhirnya tertumpah air mataku ke jaket biru Radit... untuk sekedar meringankan kerinduanku.
Setiap aku buka satu persatu, kardus baju anakku... dari celana dalam, baju kaos, kemeja, seragam merah putih, dan terakhir sepatu Radit... semua tanpa ampun menghajar kenangan di hatiku yang sudah luluh lantak ..... mengharu biru.. Beberapa pakaian Radit dengan mudah disambut ombak pantai... beberapa kembali dan aku lemparkan sambil aku teriakkan nama anakku berkali-kali....

Selamat Jalan.... anakku.... aku sebenarnya tidak rela kamu tinggalkan.... tapi apa daya bapakmu ini.... kami ingin membuang kenangan bersama bajumu... bukan berarti kami melupakanmu nak.. hanya beban ini semoga sedikit berkurang.. dengan me'larung' ... membuang semua pakaianmu ke laut lepas... dan di sana mungkin jiwamu lebih tenteram...


Jogja Agustus 2013

Tuesday, May 21, 2013

Anakku

Sepeninggal Radit, anakku yang terkena leukemia lebih dari setahun yang lalu, kini telah lahir anakku yang telah lama kami tunggu kehadirannya. Saat ini anakku sudah 4 bulan umurnya, sudah menjadi hiburan yang cukup membuat kita sekeluarga seakan bangkit kembali untuk menikmati kata bahagia, yang selama ini sangat sulit kita dapati. Naditya.. namanya, kami berharap anakku merupakan reinkarnasi dari Raditya, yang akan menghibur menjadi matahari bagi keluarga kami.Bayangan Radit, masih selalu menghampiri setiap hari, terkadang masih membuat rasa perih, marah, jengkel, dan apapun namanya membuat sesak di dada. Mengapa anakku tanpa dosa, yang terpilih untuk menderita sedemikian hebatnya. Tanpa sepengetahuan istriku, terkadang aku masih sering berputar-putar di sekitar rumah lama tempat Radit lahir dan menikmati hari-hari indahnya dahulu, yang sekarang sudah aku jual dan kini kita telah berpindah ke lain tempat untuk sekedar menghilangkan memory indah selama di rumah lama.
Trauma.. adalah kata yang tepat, sehingga terkadang kesedihan yang mendalam, ketakutan akan kehilangan anak menjadi kekuatan paranoid yang selalu mengganggu setiap langkah dalam mendampingi anakku. Saat anakku panas.. hal simpel yang sering terjadi terhadap anak kecil, menjadi momen horor yang cukup membuat perutku mual karena ketakutan yang berlebih....
Saat mendampingi Radit dalam kesakitan, hingga perginya Radit masih terpampang jelas seperti layar film di depan mataku. Momen inilah yang membuat ketakutanku berlebihan, serta menjadi penyakit paranoid yang susah aku hilangkan. Hanya senyuman Nadit anakku yang terkadang mengobati kesedihanku yang tidak tersembuhkan ini, menjadi lecutan semangat untuk  kembali menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilku...
Naditya kecilku.. telah menjadi matahari bagi keluarga kami.. sungguh luarbiasa kehadirannya.. dan menjadi pelabuhan kecilku untuk melabuhkan kerinduanku yang dalam terhadap Raditya kakaknya yang telah  mendahului bapak ibunya.

Wednesday, January 09, 2013

Sendirian di Makam Anakku

Sudah lama, keinganku untuk pergi sendiri di makam anakku. Awal tahun ini, hujan cukup deras sehingga makam anakku sedikit turun terkikis air hujan. Dan saatnya aku memeriksa kembali apakah sudah dibetulkan oleh juru kunci makam.
Sesudah membeli kembang, aku bergegas ke makam.. masih terasa baru kemarin saja kepergian anakku, yang meninggalkan sesuatu yang tidak dapat aku katakan. Aku duduk tepekur cukup lama, memandangi kayu bertuliskan nama anakku di sana, tenggelam terkubur tambahan tanah yang ditimbunkan langsung oleh juru kunci.
Saatnya aku menumpahkan air mataku yang aku tahan cukup lama, di depan kubur anakku untuk sekedar melepaskan beban yang selama ini aku tahan. Mungkin tidak ada gunanya, akan tetapi cukuplah untuk mengurai beban yang selama ini menumpuk di ujung mataku. Yang biasanya hanya sekedar sembab aku tahan, Saat aku sendiri merupakan kesempatan untuk menumpahkan beban kesedihan yang begitu menggunung.
Aku harap anakku tidak tahu kesedihanku, yang selama dia sakit, aku tahan, aku bendung, untuk tidak aku perlihatkan titik airmata sedikitpun di depan anakku.
"Aku sayang kamu Radit..."
"Maafkankan bapakmu Radit..."
Hanya kata itu yang aku ucapkan berkali-kali membiarkan seluruh airmataku tumpah. Mungkin setitik menetes di tanah basah kubur anakku. Mungkin dapat menjadi sinyal kerinduanku kepadanya.
Dapat dibayangkan, anakku sudah tidak akan aku jumpai lagi.... anakku yang benar-benar aku sayangi sudah tidak dapat aku peluk lagi...
Ya sudahlah Radit... aku sangat sayang kamu... titik airmata yang menetes tadi semoga dapat engkau rasakan... temuilah hanya dalam mimpi bapakmu......