Friday, December 07, 2012

Masih ada tangis

Hujan-hujan, aku dengan istriku tetap menerobos butiran air yang cukup deras menuju ke makam anakku. Menjelang hari meninggal anakku pada Jum'at Kliwon perhitungan jawa, pasti bayangan anakku selalu hadir pada detik-detik hariku. Ada rasa sesak di dalam dada, terkadang tidak kuasa menahan desakan untuk sekedar merembeskan energi sesak itu untuk keluar di sudut mataku.
Koneksi hati dengan istriku sebenarnya begitu kuat. Apabila desakan dada ini begitu menghebat, sudah dapat aku pastikan bahwa istriku pasti teringat akan mendiang anakku yang hampir berusia 10 tahun pada tanggal 11 Desember 2012 besuk. Istriku terkadang tidak kuasa untuk tidak menahan tangisnya. Akupun merasakan kehilangan yang amat dalam yang sulit untuk dilepaskan, seperti tangis hampa istriku menahan kerinduan terhadap anakku yang telah hampir 1 tahun meninggalkan kami.
Sebelum berangkat ke makam, istriku menangis dalam.
"Pak... aku didatengi Radit pak....."
"Radit minta pangku pak.... " tak kuasa tangis istriku tertahan.
Biasanya aku diam, menahan untuk tidak terhanyut. Mungkin istriku menyangka aku cukup kuat untuk tidak menangis. Padahal mataku mungkin sudah tidak tahan menahan derasnya energi sesak di dada.
Aku sadar hal ini tidak baik untuk kesehatanku, beberapa waktu ini detak-detak jantungku terkadang ada beberapa irama yang cukup aneh, dan kepalaku terkadang pusing dan berat. Terkadang rasanya ingin menyusul anakku di sana, seperti kata istriku beberapa waktu di dalam tangisnya.
Perjalanan masih panjang, dan aku yakin kebahagiaan harus dirintis kembali walaupun dari titik terdalam kegelapan. Rumah baru, sudah aku dapatkan dengan membuka kembali lembaran-lembaran compang-camping di rumah baru ini, aku yakin kebahagiaan harus didapatkan kembali seperti dulu. Perjuangan adalah kata yang harus selalu diucapkan setiap hari. Koneksi positif harus dikuatkan untuk istriku, anak permpuanku yang paling besar dan anakku yang sekarang sedang 8 bulan di perut ibunya menggantikan Radit yang telah berpulang.