Tuesday, January 19, 2010

Antara White Tiger, Pramoedya, Laskar Pelangi dan Satanic Verses hingga Davinci Code


Akhirnya aku cukup terhibur.. karena ada novel dengan tema yang sejak mula halaman pertama sudah begitu memacu semangatku untuk membacanya. Novel karya Arvind Adiga, begitu memesona kekagumanku pada sosok penulis ini. Saat membaca bagian awal ... bau realisme sosialis ala Pramoedya sudah cukup ku rasakan. Novel ini adalah didasari dari kontemplasi dealektik antara penulis dan lingkungan sosialnya. Arvind Adiga cukup piawai dalam mengolah kegetiran hidup di tengah dunia yang berlari kencang menggapai kemajuan. Tema realis seperti ini juga mengilhami novel anak muda negeri ini yang menuai kesuksesan luar biasa, siapa lagi kalau bukan Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Ada benang merah yang cukup nyata terlihat dari ketiganya... yaitu mencoba memotret dengan detail sebuah kegetiran hidup manusia.

Buku "White Tiger" ini hampir persis dengan kondisi di Indonesia walaupun kupasannya adalah berlatar India, seperti problem kota, urbanisasi, minimnya keberpihakan kepada rakyat kecil, carut marut politik, hingga koruptor dan korupsinya... luar biasa lengkap. Coba lihat pendapat penulisnya... " Korupsi tidak menunjukkan tanda-tanda segera pergi dari India...." tampaknya kata India dapat diganti dengan Indonesia... dan buku ini 90 persen Indonesia banget..... rugi jika Anda tidak membaca novel ini.

Buku ini memenangkan hadiah "The Man Booker Prize 2008".. sebagai karya novel berbahasa Inggris terbaik. Penghargaan ini diberikan setiap tahun oleh yayasan Booker Prize Trading Ltd... yang pernah memberikan penghargaan kepada Shalman Rushdie dengan novelnya Midnight's Children...pada tahun 1992. Tampaknya India cukup berbangga karena Arvind Adiga mengikuti jejak Shalman Rushdie.. sastrawan yang kena fatwa mati kaum Muslim, yang hingga saat ini fatwa tersebut masih berlaku karena karyanya "Satanic Verses"-nya terbit pada tahun 1998. Novel "Satanic Verses" bukan novel realis.. hanya fiksi karangan Rushdie.. tetapi efek daya rusaknya luar biasa.. hanya dari sebuah buku, ketajaman pedangpun dapat dikalahkan. Ide novel "Stanic Verses" dari si Rushdie ini mungkin dari Al Quran Surat 53:15-23 (tentang Al Lata, Al Uzza dan Mannah), dan dari surat yang kata kaum Anti Islam telah diganti di Surat 15:19-23, ide ini sangat berlainan dengan White Tiger.

Latar belakang Arvind Adiga .. bukanlah novelis... Andrea Hirata juga demikian.. energi novel ini terlecut dari bisikan dan geraman nasib kaum marjinal, proletar, kasta sudra, kelas orang berperut kecil, kelas terpinggirkan, kelas memendam amarah, mungkin juga kelas dendam kepada nasib yang diberikan Tuhan kepadanya..akhirnya muncul energi yang mendorong Arvind menuliskan pengalaman batinnya. Arvind juga berkilah 'ini hanyalah fiksi' untuk menghindari kontroversi di dalamnya. Kata 'ini hanya fiksi' memang dapat dijadikan perlindungan penulisnya untuk mengungkapkan data yang valid menjadi 'untouchable' bagi kenyataan hidup. Kasus "The Davinci Code"-nya Dan Brown yang menuai kritik sebagai ajaran sesat oleh kaum pengikut Kristus (untung tidak diancam dibunuh). Novel dengan 50 persen data valid dan 50 persen karangan imajinasi nampaknya selalu mendapat perhatian pembaca....

Wednesday, January 13, 2010

Perjalanan pencarian Tuhan

Segala sesuatu tentang pencarian Tuhan, selalu menarik perhatian saya. Terakhir saya baca dengan tertatih-tatih buku "The Shack" yang mengingatkan saya pada film Jim Carrey berjudul " Bruce Almighty", di mana si Bruce Nolan ketemu Tuhan yang diperankan oleh Morgan Freeman. Sosok Tuhan mungkin terasa lucu jika diperankan sosok manusia, mungkin hanya keterbatasan manusia dalam membayangkan Tuhan sebenarnya sehingga banyak sekali penyerdahanaan supaya dapat diterima oleh akal manusia dan yang paling penting adalah 'sebuah pesan rumit yang disederhanakan' sehingga dapat diterima dengan mudah oleh fakta bahwa akal manusia sangat terbatas.
Pertanyaan-pertanyaan dasar tentang Tuhan, mungkin coba dijawab oleh "William P. Young" Pengarang The Shack maupun "Steve Koren" sebagai penulis Bruce Almighty sehingga menimbulkan imajinasi yang mungkin sangat terbatas oleh imajinasi manusia. Sosok Tuhan yang digambarkan di film Bruce Almighty, pernah ditolak dan dilarang di Malaysia dan Mesir. Mungkin dasar pemikiran yang berbeda antara Barat dan Timur sehingga menghasilkan kontroversi ini. Banyak sekali perbedaan pendapat yang terkadang berakhir dengan perselisihan fisik, apabila tidak diselesaikan dengan bijak, apalagi berbicara tentang hal yang sangat sensitif. Banyak imajinasi manusia yang mencoba menggambarkan sosok Tuhan, menurut pengalaman batin masing-masing, akan tetapi Tuhan hasil imajinasi tersebut akan berlainan antar satu manusia dengan manusia yang lain, karena sifatnya yang sangat pribadi...
Lihatlah tulisan William P. Young dalam The Shack yang menggambarkan Tuhan menurut tokoh Mack, sebagai sosok kakek-kakek kulit putih yang sangat besar berjanggut panjang seperti tokoh Gendalf dalam Lord of The Ring... dan ternyata diputarbalikkan oleh William sendiri menjadi tokoh kontroversial wanita besar keturunan Afrika (The black female God)..yang dipanggil Papa..... yah imajinasi manusia sangat pribadi.. setiap orang boleh berimajinasi dan sekalilagi tidak akan dapat dijelaskan dengan gamblang bagaimana sosok Tuhan.. karena hanya ada di setiap sudut logika, pikiran dan hati masing-masing manusia yang tidak dapat diungkapkan dalam berbagai media apapun di dunia ini...