Thursday, October 25, 2007

Teraniyaya di Jalanan

Sudah hampir setengah tahun ini saya mencoba bike to work, atau nyepeda ke tempat kerja. Dari pada setiap pagi olah raga, mending naik sepeda ke kantor sekalian olah raga, jadi waktu menjadi efektif bukan....
Akan tetapi derajat pengguna sepeda di jalan masih sangat rendah, dan cenderung direndahkan bahkan teraniyaya... berkali-kali pengendara sepeda seperti saya ini tidak dianggap sebagai pengguna jalan. Entah di potong jalan oleh pengendara sepeda motor, dipepet oleh angkutan umum, sampai tidak boleh parkir ditempat parkir. Setiap pagi..seharusnya mengucap syukur....menjadi umpatan-umpatan terhadap pengendara lain....

Tuesday, October 09, 2007

Indonesia adalah negeri budak.

Pernyataan Pram ini cukup menyakitkan, akan tetapi realita di lapangan ternyata memang demikian hingga saat ini. Di mata Malaysia-pun negara tetangga terdekat yang sama-sama orang melayu, tampak bahwa orang Indon adalah orang budak tanpa harga di hadapannya.
"Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain."
Lihat para TKI, yang menanggalkan kodrat manusianya untuk dengan rela diinjak-injak sebagai budak....sudah tutup mata-kah para petinggi di Indon ini. Di dalam hati kecil ini pun tidak RELA....sudah waktunya Ganyang kembali Malaysia....tapi negeri inipun memang tetap menjadi budak..yang tanpa daya...tanpa suara....tanpa kekuatan untuk sekedar berteriak, membelalakkan mata...karena kepala sudah diinjak.

Friday, October 05, 2007

Humor a la Pram

Aku agak tersenyum membaca guyonan Pram di buku " Jalan Raya Pos, Jalan Daendels" di halaman 79, berikut ini cuplikannya.
"Belum lagi membaringkan badan perutku melintir. Piket (petugas piket) menunjukkan tempat kamar kecil. Tempat itu gelap tak tembus pandang. Kaki menggerayangi tahta kakus. Begitu mendapat ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh memantulkan bunyi minor. .............. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? masyaallah, ternyata yang kuberaki bukan tahta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam periuk rendah yang masih ada sisa singkong rebus".