Wednesday, May 25, 2005

Hoakiau

Saya baru membaca Hoakiau pak Pram, belum selesai bacanya akan tetapi saya mencoba untuk sedikit menuliskan beberapa kesan dari membaca buku ini. Buku ini memang sangat keras dan tampaknya watak pak Pram demikian.. dengan bahasa yang tajam dan kekentalan penguasaan aroma sejarah yang sangat kuat, pak Pram mencoba berteriak tentang nasib sebuah golongan manusia yang menurutnya sangat lemah dalam segala hal. Buku ini ditulis saat kegundahan Pram mencapai puncahknya mungkin...Menurut saya ......mata gelap tidak akan dapat di buka hanya dengan penjelasan lojik dan kenyataan sejarah. Tampaknya pembauran di Indonesia masih sangat panjang dan bertambah panjang saja..akibat dari rasa sakit yang berkepanjangan ....

Monday, May 02, 2005

Buku Pram

Saya mencoba mengkoleksi buku-buku Pram, ternyata cukup sulit juga nyarinya ya. Beberapa waktu yang lalu buku-buku tersebut terpajang di beberapa toko buku besar semacam Gramedia, akan tetapi tampaknya sudah tidak didisplay lagi. Saya bertekad untuk mengkoleksi buku-buku dari Pram ini.. hanya terbentur dana saja

Thursday, March 10, 2005

Maiko

Kepintaran Pram dalam membuat cerita berbingkai tidak diragukan lagi. Penokohan AKU terkadang memang harus pandai-pandai memutar balik cerita dari berbagai sudut pandangan. Pram mencoba mengungkap sisi buruk wanita, dari tokoh Maiko seorang pelacur Jepang yang bekerja di tempat rumah plesiran babah Ah Tjong. Pram memang lugas, di samping pemujaannya pada tokoh Nyai Ontosoroh, beliau juga mengungkap sisi kelam wanita dengan sangat lugas.
Apabila anda membaca Anak Semua Bangsa, akan dapat menemui tokoh ini yang digambarkan oleh Pram hampir satu bab sendiri. Cerita mengenai perjalanan pelacur ini, bukan tidak mustahil terjadi pula pada jaman ini. Coba lihat satu petikan "Bukan sesuatu yang luarbiasa seorang pelacur dibunuh oleh majikannya dan disembunyikan atau dihancurkan entah di mana mayatnya. Pelacur mahluk lemah tanpa pelindung. Lagipula aku tahu gejala kelemahan sudah mulai menyerang syahwatku".

Tuesday, March 01, 2005

Sejarah

Untuk belajar sejarah, saya lebih cenderung untuk membaca karya-karya Pram. Dengan membaca karya sastra, segalanya menjadi lebih mengendap. Saya terkadang sempat heran, mengapa sosok Pram ini dapat memotret sebuah kejadian demikian realistis. Seorang novelis semacam beliau ini ternyata mengandalkan riset yang panjang, yang kemudian diendapkan terlebih dahulu. Setelah terkristalisasi, barulah penulisan novel dapat dimulai. Dengan plot terkadang mengikuti alur sejarah yang sesungguhnya...memang luar biasa..