Saturday, December 18, 2004

Akhir yang sunyi

Yah itu memang ciri dari Pram, akhir yang sunyi dan cenderung tragis. Saya paling berkesan adalah akhir dari seri Bumi Manusia ini. Saya tidak banyak menceritakan secara keseluruhan buku ini, hanya satu tokoh yang belum saya sebutkan yaitu Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh (Sanikem anak dari Sastrotomo yang dijual ke org Belanda, Tuan Mallema) yang menjadi istri Minke. Haru biru kisah Minke-Annelies, begitu mendalam saya rasakan, mungkin juga pembaca yang lain. Karena kalah dalam pengadilan Pemerintahan Nederland, akhirnya pasangan Minke-Annelies pun terpisahkan dengan tragis.
Cuplikan kata-kata Annelies kepada Mama (Nyai Ontosoroh) adalah sebagai berikut " Mama, dengan kopor ini dulu Mama pergi (saat pergi dari rumah Sastrotomo karena dijual)dan bertekad takkan kembali lagi. Kopor (kopor seng kecil, coklat, berkarat, peot, cekung dan cembung di sana-sini)ini terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku takkan bawa apa-apa kecuali kain batikan Bunda, pakaian pengantinku, Ma. Masukkan sini, sembah-sungkemku pada Bunda B.... aku akan pergi, Ma, jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat biarlah berlalu, ........”
....
Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menundukkan kepala di belakang pintu.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

No comments: