Tuesday, December 21, 2004

awalan sebuah jejak langkah

Akhir tahun ini, saya mencoba membuat jejak-jejak langkah yang semoga dapat memberikan sebuah nilai dalam perjalanan hidup ini. Saya sangat menyukai istilah Jejak langkah, seperti karya bapak Pramudya dalam buku tetraloginya yang ketiga. Betul... saya memang mengagumi Pram, walaupun koleksi bukunya yahh masih terbilang sedikit. Buku Pram tebal-tebal dan menurut kantong saya yah lumayan mahal.

Monday, December 20, 2004

Bumi Manusia

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari seri tetralogi karya Pramudya. Buku Tetralogi ini merupakan buku Favorit saya, selain karya-karyanya Linus Suryadi. Saat membaca buku Bumi Manusia, saya berangan-angan jika saya mempunyai dana cukup, maka akan saya buatkan filmnya, minimal buku pertama dari Tetraloginya Pram ini. Dengan Sutradara sekaliber Garin Nugroho, film ini akan menjadi film peraih Oscar mestinya...siapa tahu. Buku ini merupakan roman sejarah pada masa kejadian tahun 1898 hingga 1918, jadi saat membaca buku ini, anda harus melakukan perjalanan jauh ke masa lampau, yang oleh Pram biasanya di deskripsikan cukup hidup dalam bukunya. Buku ini mempunyai tokoh sentral Minke namanya, sosoknya mengingatkan saya pada sosok Bung Karno saat masih muda. Tokoh lain, yang sepertinya merupakan tokoh idola dari Pram dan pandangan sosok Pram terhadap wanita, yaitu Nyai Ontosoroh. Dari buku ini, para tokoh-tokoh wanita yang biasanya meneriakkan tentang kesetaraan Gender, dapat belajar jauh dari sebuah sosok Nyai Ontosoroh ini.

Sunday, December 19, 2004

Nyai Ontosoroh

Pada bukunya Pram, banyak sekali hal yang saya pelajari. Seperti contoh-contoh nama atau kata jawa secara etimologis. Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik pribumi yang menjalankan perusahaan pertanian Boerderij Buitenzorg. Lafal jawa tidak dapat melafalkan dengan benar Buitenzorg akhirnya menjadi Ontosoroh.
Coba baca deskripsi Nyai Ontosoroh ini " Dan segera kemudian muncul seorang wanita Pribumi, berkain, berkebaya putih dihiasi renda-renda mahal, mungkin bikinan Naarden seperti diajarkan di E.L.S. dulu. Ia mengenakan kasut beledu hitam bersulam benang perak. Permunculannya begitu mengesani karena dandanannya yang rapi, wajahnya yang jernih, senyumnya yang keibuan, dan riasnya yang terlalu sederhana. Ia kelihatan manis dan muda, berkulit langsat. Dan yang mengagetkan aku adalah Belandanya yang baik, dengan tekanan sekolah yang benar".
Anda harus memahami tingkatan sekolahan pada jaman dahulu seperti sekolah Belanda H.B.S (Hoogere Burger School) setingkat SMP-SMA dan E.L.S (Europesche Lagere School)setingkat SD untuk memahami beberapa deskripsi di naskahnya Pram.

Saturday, December 18, 2004

Akhir yang sunyi

Yah itu memang ciri dari Pram, akhir yang sunyi dan cenderung tragis. Saya paling berkesan adalah akhir dari seri Bumi Manusia ini. Saya tidak banyak menceritakan secara keseluruhan buku ini, hanya satu tokoh yang belum saya sebutkan yaitu Annelies, anak dari Nyai Ontosoroh (Sanikem anak dari Sastrotomo yang dijual ke org Belanda, Tuan Mallema) yang menjadi istri Minke. Haru biru kisah Minke-Annelies, begitu mendalam saya rasakan, mungkin juga pembaca yang lain. Karena kalah dalam pengadilan Pemerintahan Nederland, akhirnya pasangan Minke-Annelies pun terpisahkan dengan tragis.
Cuplikan kata-kata Annelies kepada Mama (Nyai Ontosoroh) adalah sebagai berikut " Mama, dengan kopor ini dulu Mama pergi (saat pergi dari rumah Sastrotomo karena dijual)dan bertekad takkan kembali lagi. Kopor (kopor seng kecil, coklat, berkarat, peot, cekung dan cembung di sana-sini)ini terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku takkan bawa apa-apa kecuali kain batikan Bunda, pakaian pengantinku, Ma. Masukkan sini, sembah-sungkemku pada Bunda B.... aku akan pergi, Ma, jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat biarlah berlalu, ........”
....
Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menundukkan kepala di belakang pintu.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Friday, December 17, 2004

Cerita Berbingkai

Dalam Tetraloginya Pram, anda harus memahami apa itu cerita berbingkai. Cerita berbingkai itu seperti cerita dalam cerita, dimana dalam bertuturnya sudut pandang pengarang di tempatkan sebagai "Aku". Ada kalanya tokoh lain bercerita dan menempatkan dirinya sebagai "Aku" di dalam "Aku" ceritanya jadi bertingkat-tingkat ceritanya. Uniknya apabila anda membaca secara keseluruhan Tetralogi Pram, pada buku Rumah Kaca, cerita akan di Flash back ulang dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah dari sudut pandang "Aku" yang berbeda dari tokoh sentralnya. Penokohan ini, harus mempunyai plot alur cerita yang kuat, saya kagum dengan Pram karena konsistennya dalam merunut Plot. Kalau anda pernah lihat filmnya Nicolas Cage yang judulnya Snake Eyes, nah plot cerita akan dibalik-balik sesuai dengan tokoh-tokoh masing-masing. Penonton akan dipaksa sebagai si A, kemudian dibalik menjadi si B, atau si C dan kembali lagi ke plot awal menjadi si A. Nah membaca bukunya Pram, harus pandai-pandai menelusur plotnya. Semoga tidak bingung, kalau bingung baca sendiri dan lihat filmnya Nicolas Cage di Snake Eyes.